Sudah berpuluh tahun Niar berjualan di pasar tradisional ini. Selama itu pula ia melihat beragam pembeli yang telah berbelanja padanya. Ada yang membuatnya geram, kesal, marah, tetapi tidak sedikit pula membuatnya kagum dan terharu. Namun, pembeli hari ini kembali membuatnya meneteskan air mata.
Niar mengusap wajahnya dengan ujung hijab sarung yang mulai memudar. Napasnya masih tersengal setelah berlari mengejar pembeli yang hampir menghilang di tengah ramainya pengunjung pasar.
Sebelumnya, seorang nenek bertubuh kurus dan bungkuk berjalan bersama anaknya yang juga telah paruh baya. Ketika tiba di lapak Niar, Nenek tersebut tertarik dengan ikan salai silais yang dipajang.
“Harum,” ujarnya.
“Berapa 1 kilo, Bu?” tanya anaknya.
“130 ribu rupiah. Boleh juga 1 ons.” Niar mengabarkan jualannya.
“Enggak usah lagi, Mak!” jawab anaknya cepat kemudian menarik tangan Ibunya untuk segera berlalu.
Niar merasa iba melihat nenek itu. Pelit sekali sang anak. Bisik batinnya. Hanya untuk membelikan orang tua ikan salai saja tidak mau. Padahal, di tangannya melingkar gelang emas serta jemarinya dilingkup cincin.
Tidak lama kemudian, ada pula seorang perempuan berusia enam puluhan tahun datang bersama anaknya. Wanita muda tersebut memilih beberapa sayuran, sedangkan Ibunya menyisihkan pare kampung yang masih muda dan berukuran kecil.
“Untuk apa Mak beli?” tanya putrinya ketika akan membayar.
“Mak ingin pula makannya, enak pula direbus tambahan lalapan pakai sambal terasi.”
“Gak usah, Mak. Abang tidak suka!” Wanita itu segera mengambil belanjaan dan segera pergi. Sang Ibu turut bangkit.
Niar geleng-geleng bertambah geram, darahnya seakan mengalir cepat ingin meneriaki perempuan itu mengembalikan pare yang disisihkan Ibunya. Berapalah yang dimakan oleh orang tua. Bukan banyak pula.
Wanita muda dan Ibunya itu pergi. Niar kesal dan segera menggenggam pare tersebut kemudian mengejar keduanya. Dengan cepat ia masukkan ke dalam keranjang belanjaan. Mereka kaget melihat aksi Niar.
“Jangan dibayar, Mak! Bawalah pare itu,” ujarnya berbalik dan berjalan cepat kembali ke lapak. Ia meneteskan air mata. Hanya pare yang tidak seberapa, sulit sekali anaknya memenuhi keinginan orang tua, beralasan suaminya tidak suka.
Niar kembali menyapu air mata. Hatinya masih perih teringat mereka yang tidak memperhatikan kebutuhan orang tua. Memang tidak semua mampu dan harus menakar belanjaan. Namun, untuk orang tua tidak patut diperhitungkan.
Sinar matahari mulai menyengat panasnya membara seiring ramainya orang yang datang. Niar merapikan jualan untuk memudahkan pembeli selanjutnya melihat dan memilih. Terpal biru tempat menghamparkan beragam jualan seperti ikan salai patin, salai silais, dan salai baung. Di sebelahnya terdapat beberapa sayuran yang ia olah dari kebun. Pucuk rebung yang telah dirajang tipis diambil dari bambu peninggalan orang tuanya. Serai dan daun kunyit didapatkan dari lahan sebelah rumah. Begitu juga pakis yang ia kutip dari kebun. Daun jeruk purut dari pokok dekat rumah dan beberapa titipan panen tetangga seperti kangkung, pare dan pucuk singkong.
Semua hasil tanaman itu setiap pekan ia jual di pasar tradisional yang disebut Pasar Senin. Pasar ini menjadi tempat belanja pilihan bagi masyarakat setempat. Tidak hanya dari beberapa desa sekitarnya, tetapi juga warga dari kota datang berbelanja. Posisinya strategis, di pinggiran kota serta membelah jalan lintas nasional. Yang merindukan makanan tradisional dari daerah akan mencarinya di pasar ini.
Pasar ini memang hadir seminggu sekali setiap hari Senin. Pasar tersebut bagi masyarakat setempat untuk melepaskan berbagai keinginan. Setelah bekerja mencari uang, baik bercocok tanam, mencari ikan atau berkebun, hari pasar adalah kesempatan memanjakan selera. Semua makanan tradisional ada di sana, seperti lemang tapai, sate, es tebak dan berbagai makanan khas daerah.
Selama puluhan tahun Niar berjualan, banyak pula yang ia rasakan. Perlakuan pembeli terhadap orang tua memang banyak ragam. Pernah juga ketika sang ibu ingin membeli umbut rotan dan anaknya tidak setuju. Perempuan itu langsung merogoh uang yang dia punya dari dompet lusuh. Anaknya hanya diam bukan membayarkan. Justru membiarkan Ibunya mengeluarkan uang sendiri. Mereka tidak bersyukur masih punya orang tua, kesempatan untuk terus berbakti masih terbuka. Mata Niar menggenang.
Dari semua yang berbelanja banyak pula yang membuatnya terharu dan kagum dengan mereka yang berbakti, tidak memperhitungkan keinginan orang tuanya. Pernah juga seorang wanita muda berhijab dengan wajah lembut menemani Ibunya berbelanja.
“Mak mau apa?” tanya putrinya.
“Ikan salai baung ini,” jawab perempuan renta itu. Tangannya mengambil beberapa potong.
“Tambah lagi, Mak!” ucap putrinya.
“Ndaklah, Nak. Ndak habis sama Mak.”
Mendengar anak dan ibu seperti itu, sejuk sekali hati Niar. Begitu juga ketika sepasang suami istri berbelanja. Ada yang sangat kompak meskipun berusia lanjut tetap mesra dan saling diskusi memilih belanjaan. Ada pula yang terkesan pelit, salah satu melarang atau sebaliknya, terlalu berhitung dan wajah cemberut. Pembeli yang datang silih berganti tidak jarang memegang dan mengacak barang kemudian bertanya harga dan kadang tidak membeli. Hal itu biasa baginya.
Sausan Al Ward berdomisili di Pekanbaru. Peraih Emerging Balige Writers Festival (BWF) 2025. Menjuarai beberapa lomba cerpen, puisi, dan cerita anak. Menulis berbagai genre. Karyanya terbit di beberapa media cetak dan online serta antologi bersama nasional dan internasional. MC Pemerintahan dan presenter TV lokal, juara II lomba Pembawa Acara Balai Bahasa Provinsi Riau (2014).
