Hujan semakin deras. Banjir di berbagai kota tak membuat lelaki itu goyah mencari Prisilia. Tetapi, kali ini perannya bukan sebagai penyelamat orang hanyut atau tim penyelamat bencana. Pakaian yang ia kenakan pun tidak berwarna dasar oranyesepertipakaian tim SAR. Banjir bandang itu semakin parah. Alam ikut bersedih. Sungai menjadi keruh, ribuan ikan berenang ke tepian. Sementara lelaki itu sibuk mencari bagian lain di luar dirinya. Wajahnya kaku seperti kekurangan darah. Badannya bertambah kurus karena beban pikiran.
Lelaki itu terus berjalan melewati lumpur di sudut kota yang terdampak banjir. Sepanjang jalan ia tak lengah. Setiap raut wajah dilihatnya cemas di tengah musibah yang melanda. Pohon-pohon besar dibawa aliran sungai bersama akar-akar panjang. Belum terjawab penyebab tumbangnya pohon-pohon besar itu. Berita-berita yang beredar di televisi dan koran juga masih ambigu. Entah karena penebangan liar atau murni karena curah hujan tinggi. Pencarian terhadap Prisilia terus berlanjut meski jembatan putus oleh hantaman brutal pohon besar.
Waktu semakin mencekam. Lelaki itu kembali terdiam di sebuah posko tempat orang-orang berduka. Sementara bantuan makanan dan obat-obatan dari berbagai wilayah nusantara tentu tidak sampai secepat kilat. Sesekali lelaki itu sadar telah kehilangan kekasihnya. Ternyata cinta terbesar bukan untuk satu orang. Cinta terbesar ialah bermanfaat untuk banyak orang. Lelaki itu sedang menyaksikan tragedi pilu dengan mata telanjang. Tanpa ragu ia turun ke jalan sambil mengusap air mata. Ia melewati lumpur, mengulurkan tangan sambil berdoa.
Curah hujan menurun setelah tiga jam ia menyaksikan dahsyatnya amukan sungai. Lelaki itu terus berjalan. Tiba-tiba seorang lelaki paruh baya memanggil namanya dengan sebutan Bimo. Suara itu terdengar dari arah belakang. Ia terkejut dan merasa heran di tengah duka yang melanda. Ia memutar badan sembari tersenyum dan berjabat tangan. “Bimo sedang apa kau di sini?” Tanya lelaki paruh baya itu.
Bimo semakin penasaran dan memandang lama wajah lelaki itu. Alisnya turun naik seperti menerawang kejadian masa lampau. Sedikit menjawab dengan terbata-bata, “Tentunya tujuan kita sama.” Jawabnya singkat.
“Apakah kamu ingat dengan saya?” Lelaki paruh baya itu balik bertanya.
Bimo tersenyum sembari berkata, “Sungguh melihat wajah gerangan tak asing dalam ingatan saya, tetapi nama gerangan terasa di ujung lidah”.
Lelaki paruh baya itu membalas senyum Bimo sambil mengingatkan sebuah kejadian. “Bimo yang lebih muda dari saya. Ingatkah engkau siapa yang dahulu sempat engkau tolong di sebuah gubuk tua? Ketika kemiskinan merajalela? Beras dan uang serupiah pun tidak saya miliki. Kemudian Engkau datang membantu saya. Waktu itu Engkau seorang mahasiswa dengan almamater di desa yang tak jauh dari pantai Aceh. Engkau dan teman-temanmu yang sedang kuliah kerja nyata mampir di gubuk saya. Beruntunglah saya waktu itu dapat mengganjal perut dengan nasi. Bingkisan dan uang yang kalian beri dengan tulus.”
Bimo semakin penasaran. Ia berpikir panjang sambil mengingat masa-masa kuliah. Jauh sebelum ia mengenal Prisilia yang sering menutupi alam bawah sadarnya. “Oh, kalau tak salah gerangan yang bergelar Teungku Panji? Saudagar kaya yang ramai dibicarakan orang hari ini? Apakah benar engkau Teungku Panji?”
“Hehehe, benar. Saya ini Panji Hadikusuma. Orang-orang marak memberi saya gelar Teungku Panji sebab saya berasal dari Aceh. Saya ini sebenarnya suka hal-hal yang sederhana. Sungguh kekayaan terbesar hanya milik Allah. Barangkali kehidupan yang sudah-sudah, itulah guru saya menjalani hidup.”
“Sungguh menarik, Teungku Panji. Lantas apa yang membuat Teungku Panji sampai ke Sumatra ini?”
“Sebagai seorang saudagar, hidup mesti berpindah-pindah. Kesetiaan dan kesabaran adalah kuncinya. Sebelum saya bepergian, tentu kesetiaan kepada keluarga saya taruh di hati saya. Saya cium kening istri dan saya tatap mata anak-anak dengan binar air mata. Saya mencari nafkah dengan kewajiban sebagai pemimpin keluarga. Saya bekali mereka ilmu agama supaya hidup terasa damai dan setia.”
Bimo tersenyum lebar merasa terharu. Wajahnya kembali berseri, tidak seperti biasanya, kaku. Terlintas dalam batinnya untuk berguru ke Teungku Panji. Ya, setidaknya bekal untuk bertahan hidup di kota. Setelah bingkisan dan bantuan obat-obatan mereka bagi ke masyarakat, barulah mereka melanjutkan cerita di kedai kopi Mande Siti. Sambil menyeduh kopi pahit setengah gula, sebuah pertanyaan tanpa ragu keluar dari mulut Bimo.
“Wahai Teungku Panji yang telah merasakan banyak garam kehidupan. Apakah perempuan yang kita idam-idamkan menjadi istri layak kita perjuangkan sepenuh hati?”
Teungku Panji mengulang kaji. Ia sudah menduga pertanyaan itu akan ditujukan kepadanya. Teungku Panji memejamkan matanya tiga menit. Ia seperti merenungi kisah pertemuannya dengan seorang perempuan bernama Zahra sebelum ia menikahi Zulaiha. Tetapi jodoh tak berpihak. Jarak dan ketiadaan restu orang tua Zahra telah memisahkan mereka, sebab Teungku bukan orang berada. Jangankan untuk menikah, untuk makan saja susah. Setelah membuka mata lebar-lebar, kopi pahit itu diseduh Teungku dalam-dalam, sedalam pengalaman hidupnya yang terus berjalan.
”Baiklah anak muda. Saya jawab pertanyaan itu dengan lapang hati. Perempuan yang Kaucintai itu sungguh layak Engkau perjuangkan. Tetapi tidak untuk sepenuhnya. Sebab cinta terbesar hanya cinta seorang hamba kepada penciptanya. Cinta kepada makhluk sering membuat manusia lupa diri dan akhirnya terombang-ambing dalam keputusasaan. Sungguh banyak contoh di alam yang dapat kita jadikan guru. Sungguh banyak orang-orang separuh baya belum menikah dengan alasan patah hati. Sebenarnya bukan hatinya yang patah tetapi mentalnya sudah terlanjur basah oleh kesedihan.”
Bimo terdiam mendengarkan nasihat lelaki separuh baya itu. Ia merasa pengalaman membentuk seseorang agar semakin kokoh berdiri. Ia berterima kasih kepada lelaki paruh baya itu sebelum mereka berpisah dari meja kopi Mande Siti. Setelah minum kopi dan berdiskusi mereka pun berpisah.
Malam semakin larut, kabar Prisilia tak kunjung muncul di ponselnya. Prisilia menghilang seperti ditelan bumi. Ia pergi begitu saja tanpa kabar. Padahal dalam sanubari Bimo, ia ingin segera melamar Prisilia. Ia tak ingin pacaran lagi. Pacaran hanya membuang waktu dan memilih jalan yang salah. Bimo mencoba memejamkan mata hingga malam berganti pagi.
Mentari tersenyum menyinari bunga-bunga. Agaknya, hari ini akan cerah seperti hatinya yang segera cerah menerima kabar Prisilia. Bimo kembali semangat, menolak putus harapan. Ia kembali menghubungi Prisilia. Tetapi lagi dan lagi semua sia-sia. Nomor yang ia hubungi berdering, tetapi tak ada yang menjawab. Bimo mencoba mengirim surat dari kantor pos. Meski seiring perkembangan zaman, tingkah semacam itu sudah jarang dilakukan orang.
Surat itu memiliki nama inisial dan hanya mereka berdua yang tahu maksudnya. “Prisilia kekasihku, sungguh kuingin mengetahui kabarmu. Sedikit saja Engkau balas wahai Prisilia, tentu tenang jiwaku. Aku sudah membenarkan niat untuk segera meminangmu. Prisilia, masih ingatkah engkau tentang janji-janji masa lalu. Kita akan menghadapi persoalan-persoalan hidup di kota. Meski aku ini orang desa yang jauh dari kata sempurna”.
Tiga hari sudah pesan itu terkirim, tetapi tak kunjung berbalas. Sementara masyarakat di desa semakin memekik. Harga minyak melonjak tinggi, begitu pula dengan cabe dan lada. Bimo yang masih di kota mengabari ibunya dan memutuskan untuk pulang.
Setelah sampai di rumah, Ibu Bimo berpesan, “Wahai putraku dengarkanlah baik-baik. Wajahmu yang dulu berseri-seri kini tampak kusam. Tentunya Ibu sudah dapat menebak permasalahan yang kau hadapi. Sebab Ibumu yang tak berkecukupan ini tentulah pernah muda juga. Sungguhpun demikian, tiada masalah yang tak selesai bila kita rida terhadap ketentuan Ilahi. Pesan Ibumu yang sudah tua renta ini tentulah dapat Engkau pahami. Jagalah nama baik keluarga, jangan lupa diri.”
“Terima kasih petuah Ibu. Sungguh akan kujadikan petuah Ibu sebagai pegangan hidup.”
Tiga tahun kemudian, tiba-tiba ponsel itu berdering. Sebuah pesan masuk tanpa nama melalui pos-el. Senanglah hati Bimo sejenak. Telunjuknya aktif menggeser layar ponsel dari atas ke bawah. Oh, ternyata pesan itu dari Prisilia. Bimo terus menggeser layar dengan telunjuk manisnya sampai ke bawah. Sebuah pesan berisi kondisi Prisilia.
Melihat pesan itu, perasaan Bimo semakin terguncang. Tubuhnya gemetar dan jantungnya berdenyut kencang. Ia menghela nafas pelan-pelan di atas bus yang mengangguk-angguk melewati jalan berlobang. Bimo teringat jalan pulang. Pulang ke dalam dirinya. Pulang menuju cinta kepada-Nya. Bahwa segala sesuatu yang diusahakan belum tentu meraih hasil. Tetapi, hidup harus dilanjutkan seperti petuah Teungku Panji.
Biodata Penulis

Adisman Libra adalah penulis kelahiran 25 Januari 1997 di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Ia suka menulis semenjak tamat kuliah dengan nama pena penyambung lisan ayah (PLA). Beberapa karyanya: Dalam Bait-bait Sunyi dan Suluh Ramadan (kumpulan puisi tunggal), Siman dan Guru tanpa Gelar (novel). Cita-citanya membahagiakan orang tua lewat doa, cinta, dan segala rindu yang tersimpan di bola mata.
