Arsip

Evil For the Devils

Sudah dua tahun Pendro berkuasa dan dalam dua tahun terakhir total sudah enam aktivis menghilang. Rezim Pendro tetap tidak mengakui perbuatannya meski sudah tiga provinsi yang sudah “memerdekakan diri” dari negara. Masyarakatnya serentak menolak membayar pajak, infrastruktur dibangun dan diperbaiki sendiri mengggunakan dana swadaya masyarakat, aparat kepolisian ditekan habis-habisan, bahkan gubernurnya kabur ke luar negeri karena tak sanggup menenangkan rakyatnya dan banyaknya ancaman pembunuhan.

Satu Setengah Tahun yang Lalu

Jasad seorang aktivis terkenal bernama Sarah ditemukan warga tak jauh dari sebuah lahan kelapa sawit setelah tiga bulan menghilang. Para ahli forensik menemukan banyak bekas luka lebam dan sayatan benda tajam yang sudah lama mengering, termasuk luka pada lima jari yang sudah hilang kukunya, lalu menyimpulkan Sarah wafat karena kelelahan dan infeksi bakteri dari luka yang tidak dibersihkan. Momen yang sempurna untuk kekacauan sebuah negara.

Markus. Satu-satunya pejabat di rezim Pendro yang masih berdiri kokoh untuk rakyat. Berbagai kursi kementerian Markus duduki dalam berbagai rezim yang silih berganti selama puluhan tahun lamanya dan itu sudah lebih cukup untuk membuktikan kehebatan dan kelincahan Markus berpolitik. Namun, masih jauh dari cukup untuk Markus memperbaiki negara  yang bernama Vardia. Di pemerintahan Markus menjalani perannya sebagai pelayan rezim yang setia, tetapi di dalam dirinya menyimpan amarah besar karena ketidakberdayaan membela yang benar.

Saat mendapat kabar ditemukan wafat setelah menghilang selama tiga bulan, untuk pertama kali Markus menjalankan rencana terakhirnya sebagai pembela rakyat yang memiliki kekuasaan. Dengan akses yang dimilikinya, Markus menemui Pendro.  

“Ya turut berduka cita lah, ya,” ucap Pendro bersimpati datar.

“Setidaknya, berikan saya nama orang yang terlibat menganiaya Sarah,” Markus menuntut.

Markus tahu betul siapa yang paling bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa putrinya. Namun, Markus tidak membalas sembarangan walaupun sebuah belati tertambat di balik kemejanya.

“Salah sendiri putrimu melampaui batas, aku masih berbaik hati untuk tidak melibatkanmu,” ucap Pendro menarik kembali simpatinya.

“Begini saja, kau tenangkan dulu massa di luar itu. Oh iya, mulut kau yang manis itu juga bisa dipakai untuk bikin mereka tenang. Setelah itu, mari bicarakan proyek kita yang sudah lama tertunda,” kali ini Pendro membujuk.

Markus menarik napas dalam, ledakan amarah yang tak lagi bisa ditahan. Tangan kanan meraih belati di balik kemeja siap membunuh Pendro yang tak lebih dari dua meter di hadapannya. Namun, empat penjaga pribadi yang disiapkan Pendro lebih dulu menyadari aksi itu menyergap Markus dan siap membunuh Markus langsung di ruangan itu.

Pendro mengangkat tangan kanan, menghentikan penjaganya.

“Kau adalah rekanku yang paling berharga. Walau berbeda pandangan, aku tidak menyingkirkanmu dari kursi itu dan tidak sekalipun mengganggumu. Aku sungguh tidak tahu kalau aktivis itu adalah Sarah. Aku menyesal atas apa yang menimpanya,” ucap Pendro.

“Bergabunglah denganku, Markus. Aku mengajakmu untuk yang terakhir kali. Kalau kau tetap menolak, dengan terpaksa kau sekeluarga akan bernasib sama dengan Sarah putrimu. Maaf, hanya itu pilihanmu. Aku akan menunggu jawabanmu dalam satu pekan.” Setelah ajakan itu, Pendro menyuruh penjaganya mengantarkan Markus ke ruangan medis pribadi milik untuk merawat Markus hingga pulih.

Kembali ke Masa Sekarang

Markus yang masih hidup menjadi bawahan Pendro. Meski begitu, rencana Markus untuk balas dendam tak pernah berubah. Di belakang Pendro, Markus memperparah kekacauan dengan menciptakan kelompok separatis yang bergerak lincah tak terlihat.

Tak seorang pun tahu siapa pelakunya, dari mana asalnya, atau bagaimana wajahnya sebenarnya. Yang diketahui masyarakat hanyalah simbol sebuah pedang berlumuran cairan berwarna biru yang selalu muncul di lokasi pembunuhan pejabat korup, markas polisi yang terbakar hebat atau gudang-gudang logistik milik negara yang tiba-tiba kosong dalam semalam.

Pemerintah menyebut mereka teroris.

Rakyat kebingungan memihak ke mana.

Organisasi yang dipimpin Markus menamakan diri mereka Abyss Order, sebuah kelompok vigilante yang lahir dari kemarahan para mantan tentara, aktivis, jurnalis, dan warga biasa yang kehilangan keluarga akibat represi negara.

Markus mendirikan organisasi vigilante Abyss Order setelah anaknya, seorang aktivis lingkungan, menjadi salah satu dari enam aktivis yang hilang dua tahun lalu. Selama berbulan-bulan ia mencari jawaban ke kantor polisi, gedung pemerintahan, hingga markas militer. Semuanya berakhir sama: pintu tertutup dan ancaman pembungkaman.

Malam itu, di sebuah pabrik tua di pinggiran kota, Markus berdiri di depan puluhan anggota Abyss Order.

“Besok pagi,” katanya pelan, “kita akan menyerang pusat arsip Kementerian Hukum dan HAM.”

“Ada informasi bahwa seseorang di sana yang bernama Luis terlibat operasi penculikan dan mengetahui tempat penyimpanan seluruh dokumen terkait penculikan enam aktivis.”

Seorang perempuan bernama Karen mengangkat tangan. Dahulu ia seorang jurnalis investigasi sebelum medianya dibredel pemerintah.

“Kalau informasi itu salah?”

Markus menatap peta di hadapannya.

“Kalau salah, kita pulang dengan tangan kosong. Tapi kalau benar, kita bisa menunjukkan kepada seluruh negeri siapa dalang di balik semua ini.”

Operasi dimulai pukul tujuh pagi.

Anggota dibagi menjadi dua tim. Dengan seragam hitam tanpa tanda pengenal, separuh anggota Abyss Order memasuki gedung kementerian melalui saluran bawah tanah. Markus dan separuh anggota lainnya menyamar menggunakan setelan jas berbaur dengan orang-orang di sekitar. Markus sudah khatam dengan denah bangunan karena Markus sendiri yang memimpin gedung kementerian itu.

Tak ada tembakan, tak ada ledakan. tim yang berbaur menyergap orang yang dicurigai dan membawanya ke hadapan Markus. Tak disangka orang yang bernama Luis itu adalah bawahan Prendo yang menyamar menjadi office boy selama dua tahun. Setelah Luis memberikan dokumen penculikan, Markus membunuh Luis agar kejadian ini tidak sampai ke telinga Pendro. Saat semua dokumen itu dibuka di atas meja, Markus dan anggotanya berdiri mematung.

“Ya Tuhan….”

Di dalam semua dokumen, tertulis kalimat dengan cat merah:

MEREKA TIDAK AKAN KEMBALI.

Namun rencana harus tetap dijalankan, anggota Abyss Order yang berseragam formal mengosongkan seluruh gedung. Setelah semua orang berada cukup jauh dari gedung. Anggota lainnya yang berada di bawah tanah meledakkan gedung. Markus bersama separuh anggotanya membaur dengan kerumunan, sementara anggota yang masuk dari bawah tanah sudah kabur lebih dulu setelah meledakkan gedung.

Sore harinya, seluruh negeri dikejutkan oleh siaran  berita yang membanjiri radio dan jaringan internet bawah tanah. Abyss Order meledakkan gedung kementerian.

Markus yang menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM mengutuk keras tindakan teror itu di depan media. Di sisi lain, sebagai pemimpin Abyss Order, Markus menyadari Pendro mengetahui aksinya selama ini dan mempermainkannya dalam operasi yang dilakukan Markus.

Malam berikutnya, Markus berdiri sendirian di atap sebuah gedung, memandangi kota yang berada di ujung tanduk.

Karen menghampirinya.

“Bagaimana langkah selanjutnya?” Markus berguman pelan.

“Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.”

Fathur Rahman merupakan lulusan Sarjana Komunikasi UIN Bandung yang baru menyelesaikan pendidikannya (fresh graduate). Saat ini, Fathur bekerja sebagai pegawai lepas sekaligus pengemudi ojek online. Ia dapat dihubungi melalui email 23rahmanfathur@gmail.com.